Gold Review : Harga Emas Anjlok, Uji Terendah Januari
Harga emas anjlok selama sesi perdagangan Rabu (15/2), mencapai level terendah baru sejak Januari. Kekhawatiran tentang akan berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve AS karena inflasi naik lebih tinggi dari yang diharapkan ditambah laporan penjualan ritel Januari yang secara tak terduga melonjak sebanyak 3% jauh diatas harapan investor.
Menyusul laporan Inflasi AS yang naik 6.4% lebih besar dari harapan pasar 6.2%, laporan Penjualan Ritel AS tercatat naik sebanyak 3%, jauh diatas perkiraan dan data sebelumnya pada 2.0% (F) dan -1.1% (P). Laporan tersebut ters mempertegas bahwa suku bunga the Fed mungkin akan naik diatas 5% dan bertahan disana untuk waktu yang cukup lama. Laporan juga memperkuat probability kenaikan suku bunga the Fed menjadi 12.2% dari 9.2% (14 Feb) untuk ruang kenaikan sebanyak 75bps. Sedangkan peluang kenaikan 25bps melambat menjadi 87.8% dari 90.8%.
Dipasar spot, harga emas ditutup melemah sebanyak $17.76 atau 0.97% berakhir pada level $1,836.31 per ons, setelah uji terendah $1,830. Emas berjangka kontrak April ditutup melemah sebanyak $19.80 atau 1.07% berakhir pada level $1,845.30 per ons di Divisi Comex.
Dipasar komoditas lainnya, Harga minyak rebound dari sesi terendah hariannya - menghapus hampir seluruh kerugian diawal sesi perdagangan Asia setelah EIA menetapkan permintaan minyak China selama 2023 meningkat 900.000 bpd setelah pembatasan COVID-19 dibuka kembali. EIA juga melihat bahwa permintaan minyak global akan meningkat sebanyak 2 juta barel per hari pada tahun 2023 menjadi 101.9 juta.
Sementara itu, kenaikan nampak terbatas disesi perdagangan Amerika setelah laporan persediaan minyak mentah AS berdasarkan laporan EIA tercatat melonjak sebanyak 16.283 juta barel, lebih banyak dari perkiraan dan data sebelumnya pada 1.166 juta (F) dan 2.423 juta (P).
Dipasar spot, harga minyak ditutup melemah hanya sekitar 32 sen atau 0.41% berakhir pada level $78.51 per barel, setelah uji tertinggi $79.60. Minyak mentah WTI AS turun sebanyak 36 sen atau 0.46% berakhir pada level $78.59 per barel. Sedangkan Brent London turun sebanyak 20 sen atau 0.23% berakhir pada level $85.38 per barel.
Memasuki sesi perdagangan Kamis (16/2), fokus utama pasar global akan tertuju pada laporan Inflasi Produsen AS yang akan dirilis pada pukul 20:30 WIB, bersamaa dengan laporan Klaim Pengangguran dan data perumahan AS (Housing Starts dan Building Permits). Disesi Asia pagi ini, laporan data Neraca Perdagangan Jepang akan dirilis pada pukul 06:50 WIB dan laporan tenagakerja Australia akan dirilis pada pukul 07:30 WIB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar